SKRIPSI JARINGAN KOMPUTER BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka
Pada bagian ini terdapat beberapa penelitian yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang penulis lakukan.

Penelitian yang pertama dari Pranata (2016) dari Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Jember dengan judul analisis optimasi kinerja QoS pada  layanan komunikasi data menggunakan NS-2 Di PT.PLN (PERSERO) Jember. Permasalahan yang ada di penelitian ini adalah pada sistem ini pelanggan dengan mudah melakukan transaksi ataupun melakukan pengecekan status. Untuk menikmati layanan berbasis online tersebut dibutuhkan sebuah jaringan backbone pendukung yang baik dan selalu tersedia setiap saat. Pada penelitian ini menggunakan metode QoS dimana fungsi ini adalah kemampuan suatu jaringan untuk menyediakan layanan yang baik, Dengan parameter  QoS yang terdiri dari latency, jitter, packet loss, throughput, MOS, echo cancellation dan PDD. Hasil analisa dan pembahasan yang telah dilakukan pengukuran pada jam sibuk (09.00-11.00 WIB) adalah delay 1,026361112s, jitter 0,042708333s, packet loss 7,5833333%, throughput 0,56 Mbps. Pengukuran jam non sibuk (11.00-13.00 WIB) didapatkan hasil delay 1,017055551s, jitter  0,01391667s,  packet loss 2,0833333%, throughput 0,6725 Mbps.

Penelitian yang kedua dari Usman (2015) dari Program Studi Teknik Informatika, STMIK AMIKOM Yogyakarta dengan judul analisa kinerja jaringan wireless LAN menggunakan QOS dan RMA pada perpustakaan Universitas Gajah Mada. Dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis mengangkat masalah bagaimana menganalisis kinerja jaringan wireless LAN (Local Area Network) dengan mengukur parameter bandwidth, delay, packet loss dengan menggunakan metode QoS & RMA (Realibility, Maintainability, and Availability) pada jaringan wireless LAN pada perpustakaan Universitas Gajah Mada. untuk melakukan pengukuran kinerja jaringan wireless LAN menggunakan metode QoS dan  RMA. Hasil  yang didapat bandwitdh tertinggi di area L1 yaitu 92 Mbps, delay tertinggi di area L7 termasuk kategori jelek 450ms.  Packet loss tertinggi pada area gedung L7 yaitu 7%, Kinerja jaringan wireless UGM-Hotspot di wilayah perpustakaan UGM belum cukup memenuhi kebutuhan yang ada dikarenakan dibeberapa gedung masih terdapat nilai delay dan packet loss cukup tinggi.

Penelitian yang ketiga Purwanto (2013) dari Universitas Bina Darma Palembang dengan judul analisa kinerja wireless radius server pada perangkat access point 802.11g di Universitas Bina Darma. dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis mengangkat masalah bagaimana mendapatkan kinerja jaringan nirkabel yang optimal untuk memberikan kualitas jaringan yang baik dari aspek fisik sehingga jaminan QoS yang di berikan disesuaikan dengan aplikasi yang digunakan serta efisiensi terhadap jaringan wireless LAN (Hotspot) . Pada penelitian ini menggunakan metode action research dan QoS. Hasil yang didapat untuk menguatkan kinerja jaringan Hotspot Bina Darma harus diperhatikan kontrol terhadap aspek redaman, distorsi dan noise, serta kapasitas bandwidth yang tersedia.

Penelitian yang keempat dari Nasrullah dan Riadi (2015) dari Program Studi Teknik Informatika dan Sistem Informasi, Universitas Ahmad Dahlan dengan judul analisis kinerja jaringan wireless LAN dengan menggunakan metode QoS. Dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis mengangkat masalah bagaimana memonitoring dan mengukur kinerja jaringan wireless LAN dan untuk mengetahui seberapa besar kinerja jaringan pada infrastruktur seperti kecepatan akses dari titik pengirim ke titik penerima yang menjadi tujuan, dengan cara mengukur parameter throughput, delay, jitter dan packet loss pada laboratorium jaringan kampus III UAD. Pada penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dan QoS. Hasil dari pengujian sistem menggunakan uji kelayakan diperoleh hasil bahwa sebelum menerapkan QoS dengan hasil 18 % sangat setuju, 66 % setuju, 14 % kurang setuju dan 2% tidak setuju dengan kualitas kinerja jaringan dan sesudah menerapkan QoS yaitu dengan hasil 40 % sangat setuju dan 60 % setuju dengan kualitas kinerja jaringan.

Penelitian yang kelima dari Sugiantoro dan Mahardika (2017) Jurusan Teknik Informatika, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul analisis QoS jaringan wireless SUKANET WiFi di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga. Dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis mengangkat masalah bagaimana menyediakan kinerja layanan yang bagus untuk dapat memberikan layanan nyaman kepada pengguna. Pada penelitian ini menggunakan metode QoS dengan parameter QOS terdiri dari throughput, delay, Packet Loss. Hasil dari pengukuran dan pengujian throughput 50%, delay 159ms, Packet loss 36% maka jaringan SUKAnet WiFi masih jauh jika dilihat dari standar kualitas layanan dari TIPHON dan administrator jaringan SUKAnet WiFi perlu melakukan tidak lanjut agar dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada user.

Penelitian yang keenam dari Lubis dan Pinem (2014) dari Jurusan Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Fakultas Teknik , Universitas Sumatera Utara (USU) dengan judul analisis QoS jaringan internet di SMK Telkom Medan. Dimana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis mengangkat masalah bagaimana Server E-Learning SMK Telkom Medan memiliki bandwith, upload dan download yang unlimited sehingga keseluruhan siswa disekolah tersebut bisa maksimal untuk dapat mengakses server E-Learning tersebut bergantung kualitas layanan internet yang tersedia. Penelitian ini menggunakan metode QoS. Hasil dari pengukuran A dengan indeks 93,81 dengan kategori “Memuaskan”, nilai QoS untuk gedung B dengan indeks 94,87 dengan kategori “Memuaskan”, dan nilai QoS untuk gedung C dengan indeks 94,60 dengan kategori “Memuaskan”, Dari hasil pengukuran rata – rata bandwith faktual yang didapat dari gedung A, B dan C sebesar 6Mbps dari 24Mbps bandwith yang sediakan oleh penyedia jasa layanan internet.

2.2 Jaringan Komputer
Jaringan komputer adalah ” Interkoneksi” antara dua komputer Autonomous atau lebih, menggunakan protokol komunikasi yang terhubung dengan media transmisi kabel atau tanpa kabel (wireless) untuk keperluan komunikasi data informasi. Autonomous adalah apabila sebuah komputer tidak melakukan kontrol terhadap komputer lain dengan akses penuh, sehingga dapat membuat komputer lain melakukan restart,shutdown, kehilangan file atau kerusakan sistem, dalam defenisi lain sebagai jaringan yang independen dengan manajemen sistem sendiri ( punya admin sendiri ), memiliki topologi jaringan, memiliki harware dan software sendiri dan dikoneksikan dengan jaringan autonomous lain, Dua unit komputer dikatakan terkoneksi apabila keduanya bisa saling bertukar data/informasi, berbagi sumber daya yang dimiliki, seperti file ,printer, media penyimpanan ( hardisk, floppy disk, cd rom,flash disk, dll ). data yang berupa teks, audio maupun video bergerak melalui media kabel atau tanpa kabel wireless (Asmara, 2014)

2.3 Jaringan Wireless
Wireless adalah suatu jaringan nirkabel yang menggunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara perangkat komputer dan akhirnya titik akses yang merupakan dasar dari transiver radio dua arah yang tipikalnya bekerja di bandwidth 2,4GHz (802.11b, 802.11g) atau 5GHz (802.11a). Kebanyakan peralatan mempunyai kualifikasi Wi-Fi,IEEE 802.11b atau akomodasi IEEE 802.11g dan menawarkan beberapa level keamanan seperti WEP dan WPA Jaringan Wireless merupakan sekumpulan komputer yang saling terhubung antara satu dengan lainnya sehingga terbentuk sebuah jaringan komputer dengan menggunakan media udara/gelombang sebagai jalur lintas datanya. Berdasarkan ukuran fisik area yang dapat dicakup, jaringan wireless terbagi menjadi beberapa kategori yaitu sebagai berikut (Wicaksono, 2017):

2.3.1 WPAN (Wireless Personal Area Network )
Jaringan WPAN mempunyai cakupan area yang sangat sempit, yaitu sekitar 20 meter. Karena jaraknya yang sangat sempit, maka jaringan ini hanya dapat digunakan secara personal dalam suatu ruangan. Peforma jaringan WPAN termasuk dalam kategori sedang, di mana kecepatan transfer datanya mencapai 2 Mbps.

2.3.2 WLAN (Wireless Local Area Network )
Jaringan WLAN sangat efektif digunakan di dalam sebuah kawasan atau gedung. Dengan peforma yang dapat diandalkan, jaringan WLAN banyak digunakan untuk menggantikan jaringan berbasis wired atau kabel. Jaringan WLAN dapat mencakup sebuah kawasan rumah, kantor kecil, perusahaan hingga ke area-area publik. Teknologi WLAN yang banyak digunakan saat ini adalan standar 802.11 yang disebut Wireless Fidelity atau Wi-Fi.

2.3.3 WMAN (Wireless Metropolitan Area Network)
WMAN adalah Metroplitan Area Network, yaitu jaringan yang mempunyai cakupan yang relatif lebih luas dibanding cakupan LAN. Jaringan ini menyediakan interkoneksi outdoor dalam kawasan perkotaan atau antar gedung. Wireless MAN dipilih karena tidak begitu membutuhkan biaya yang besar dibandingkan jaringan melalui tembaga atau melalui kabel serat optik. Jaringan WMAN menggunakan standar 802.16 oleh IEEE dengan jangkauan frekuensi antara 2 GHz dan 11 GHz. Dengan standar yang demikian tinggi, jaringan WMAN dapat digunakan untuk mengembangkan jaringan wireless dengan cakupan kawasan perumahan, antar perusahaan kecil, dan antar gedung perkantoran.

2.3.4 WWAN (Wireless Wide Area Network)
Jaringan WWAN memiliki cakupan hingga antar negara atau bahkan antar benua. Keuntungan dari jaringan WWAN adalah cakupannya yang sangat luas dan secara ekonomi sangat efektif. Kekurangan dari jaringan WWAN adalah terbatasanya ketersediaan spektrum frekuensi, sehingga menghasilkan peforma yang rendah dan keamanan yang kurang baik. Secara garis besar perbandingan jaringan wireless secara umum terangkum pada tabel berikut ini :

2.4 Topologi Jaringan
Menurut Stallings (2001) topologi adalah struktur yang terdiri dari jalur switch, yang mampu menampilkan komunikasi interkoneksi diantara simpul-simpul dari sebuah jaringan. Topologi jaringan dapat dibagi dua berdasarkan struktur dari jaringan tersebut, yaitu : Physical Topology adalah gambaran secara fisik dari hubungan antara komponen-komponen dalam suatu jaringan yang meliputi server, workstation, hub, switch, dll. Bentuk umum yang sering digunakan adalah Bus, Star, dan Ring. dan Logical Topology adalah gambaran secara maya bagaimana sebuah host dapat berkomunikasi melalui medium. Bentuk umum yang sering digunakan adalah broadcast dan token passing.

2.4.1 Topologi Star
Topologi jaringan star adalah node (station) berkomunikasi langsung dengan statiun lain melalui pusat node (Hub/switch). Data mengalir dari node ke pusat node dan diteruskan ke node tujuan, jika salah satu segmen kabel putus, jaringan lain tidak akan terputus (Asmara, 2014)

Kelemahan topologi STAR

Kelemahan topologi star adalah untuk membangun jaringan ini, kita memerlukan biaya yang tinggi, karena model dari topologi ini memerlukan banyak kabel serta pengadaan switch / hub, topologi ini sangat tergantung pada switch/ hub dari faktor kestabilannya, sehingga apabila komponent switch atau hub mengalami kerusakan atau gangguan maka seluruh jaringan juga akan mengalami gangguan.

Kelebihan topologi STAR

Kelebihan topologi star adalah topologi ini sangatlah flexible dan untuk mendeteksi apabila terjadi gangguan pada komputer yang terhubung ke jaringan, mengontrol jaringan dapat dilakukan dengan sangat mudah, dan juga apabila kita akan menambah atau mengurangi komputer juga tidak akan mengalami kesulitan. pada model topologi jaringan star juga memiliki tingkat keamanan data yang lebih tinggi dibandingkan dengan model topologi jaringan lainya. Kekurangan topologi star adalah untuk membangun jaringan ini, kita memerlukan biaya yang tinggi, karena model dari topologi ini memerlukan banyak kabel serta pengadaan switch / hub, topologi ini sangat tergantung pada switch/ hub dari faktor kestabilannya, sehingga apabila komponent switch atau hub mengalami kerusakan atau gangguan maka seluruh jaringan juga akan mengalami gangguan.

2.5 Protokol
Menurut Tanenbaum (2003) adalah suatu set aturan yang mengatur cara perangkat-perangkat salam suatu jaringan bertukar informasi. Fungsi-fungsi protokol dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu : Enkapsulasi, Segmentasi dan reassembling, Kontrol Koneksi (Connection Control), pengiriman sesuai order (Orderal Delivery), Flow control, Error control, pengalamatan (Addressing), multiplexing, servis-servis transmisi (transmission services). Model yang paling sering digunakan adalah model referensi Open System Interconnection (OSI). Pada OSI terdapat tujuh layer komunikasi, yaitu physical, data link, network, transport, session, presentation, dan application. Sedangkan model TCP/IP Layer yang mempunyai empat layer, yaitu network interface, internet, transport, dan application merupakan protokol jaringan yang saat ini sangat umum digunakan untuk internetworking.

2.5.1 UDP (User Datagram Protocol)

UDP adalah salah satu protokol lapisan transpor TCP/IP yang mendukung komunikasi yang tidak andal (unreliable), tanpa koneksi (connectionless) antara host-host dalam jaringan yang menggunakan TCP/IP. Cara kerja UDP sebagai berikut ini :

  1. Paket berisi port client dan port sumber berbentuk file text dikirimkan ke server dalam UDP header
  2. Paket berisi port client dan port sumber berbentuk file audio dikirimkan ke server dalam UDP header.
  3. UDP tujuan membaca nomor port tujuan dan memproses data.
  4. Paket asli memiliki port tujuan sehingga server dapat mengirimkan data kembali ke ftfp client.
  5. Untuk point 3 dan 4 berulang lagi saat server menerima file audio dari client.
  6. Saat aplikasi yang ingin mengirim data, UDP tidak akan mem-buffer atau mem-fragmen data.
  7. Karena UDP tidak mem-fragmen data, jika data yang lebih besar dari MTU, lapisan IP yang harus mem-fragmen nya.


2.5.2 TCP (Transmission Control Protocol)
TCP adalah suatu protokol yang berada di lapisan transport (baik itu dalam tujuh lapis model referensi OSI atau model DARPA) yang berorientasi sambungan (connection-oriented) dan dapat diandalkan (reliable).
Cara kerja TCP :
  1. Pertama, Datagram akan dibagi-bagi ke dalam bagian-bagian kecil yang sesuai dengan ukuran bandwith dimana data tersebut akan dikirimkan.
  2. Pada lapisan TCP, data tersebut lalu di bungkus dengan informasi header yang dibutuhkan. Misalnya seperti cara mengarahkan data tersebut ke tujuannya, cara merangkai kembali kebagian-bagian data tersebut jika sudah sampai pada tujuannya, dan sebagainya.
  3. Setelah datagram sibungkus dengan header TCP, datagram tersebut dikirim kepada lapisan IP.
  4. IP menerima datagram dari TCP dan menambahkan headernya sendiri pada datagram tersebut.
  5. IP lalu mengarahkan datagram tersebut ke tujuannya.
  6. Komputer penerima melakukan proses-proses perhitungan, ia memeriksa perhitungan checksum yang sama dengan data yang diterima.
  7. Jika kedua perhitungan tersebut tidak cocok berarti ada error sewaktu pengiriman dan datagram akan dikirimkan kembali.


Semoga bermanfaat, 

Terimakasih

0 Response to "SKRIPSI JARINGAN KOMPUTER BAB 2 LANDASAN TEORI "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel